Minggu, 13 Desember 2009

ketidak adilan


Apa yang tersisa dari kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh sang Tiran
-- ketika sikap kritis dilarang, kebebasan dibungkam dan kebenaran
diputarbalikkan— di masa lalu? Pada kondisi semacam ini sejarah atau
historiografi pun menjadi tak lebih sebagai dongeng fiktif yang mendedahkan
kepahlawan penguasa dan penghinadinaan bagi para korban. Mereka yang sudah mati
masih tetap dihinakan, mereka yang masih hidup tetap dipariakan. Apa yang
tersisa dari warisan rejim penguasa di masa lalu? Tak lebih dan tak kurang
adalah kuburan massal tanpa nama dan seluruh negeri menjadi kuburan besar bagi
kemanusiaan. Jejak sepatu lars penuh tetesan darah, sejarah yang dibengkokkan,
dan berjilid-jilid karya sastra, tempat para korban mencatatkan luka derita
perlawanan mereka. Ketika rasa sakit dan derita yang telah dipaksa berurat-akar
dalam benak bangsa, belum mampu benar dicabut, paling tidak ada ruang untuk
menegosiasikan derita dan kebenaran.
Ketika historiografi menjadi monopoli penguasa, maka antara fakta dan fiksi
menjadi tidak kentara batasnya. Apa yang dianggap kebenaran oleh para penguasa,
di dalam sejarah kekuasaan yang diterakan sebenarnya tak lebih dari fiksi yang
dikarang oleh intelektual pendukung mereka, dan didongengkan terus-menerus
kepada rakyat agar dipercaya menjadi suatu sejarah dan kebenaran yang
sesungguhnya. Ketika penguasa memproduksi fiksi yang disamarkan sedemikian rupa
agar dianggap menjadi fakta, maka karya sastra menjadi alternatif pilihan untuk
memunculkan semangat pencatatan sejarah dan kebenaran, moralitas dan etika.
Sebab, karya sastra sebagai salah satu media ekspresi manusia, dalam skala
tertentu mempunyai potensi sebagai teks tandingan bagi jenis fiksi lain, yang
dituliskan oleh para penguasa lewat historiografi resmi yang mereka monopoli.
Karya sastra yang jelas-jelas dihasilkan sebagai sesuatu yang benar-benar fiksi
murni, toh juga mampu mengoplos sedemikian rupa antara
fakta dan fiksi, kebenaran dan rekaan, kenyataan dan khayalan, derita dan
pengharapan.
Karya sastra di sini dapat disetarakan dengan model transisi untuk penulisan
historiografi, yang bukan sekedar mengisahkan rentetan kronologis terjadinya
suatu peristiwa sejarah. Melainkan transisi ke arah historiografi yang
menjadikan moralitas dan etika sebagai neraca utama untuk menakar kembali
kebenaran peristiwa politik di masa lalu dan pengaruhnya terhadap kisah hidup
nyata manusia biasa di masyarakat pada kurun waktu tertentu di dalam perjalanan
sejarah suatu bangsa. Di sinilah para korban kekerasan sang Tiran dan non
korban mampu merebut kembali kedaulatannya untuk menerakan dan membahasakan
pemikiran dan ingatannya terhadap apa yang pernah terjadi di masa lalu dan
pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di masa sekarang dan di masa depan.
Kalau sejarah versi resmi tidak memuat kisah tentang kehidupan mereka yang
dianiaya dan dinistakan, maka dengan adanya karya sastra, baik yang ditulis
survivor maupun non survivor dapat merebut pena keniscayaan sejarah, guna
menuliskan kisah pahit getir hidup mereka, pesimis dan optimistik keyakinan
mereka akan kebenaran dan harapan, akan keberhasilan ataupun kemungkinan
kegagalan perjuangan mereka. Pendek kata, dengan karya sastra, kebenaran yang
dinarasikan oleh para penguasa bisa dicurigai, dipertanyakan, dimain-mainkan,
dibongkar bahkan disusun ulang. Kita juga bisa mempertimbangkan apa harapan dan
sikap para korban maupun non korban terhadap penindasan dan kekerasan yang
menimpa mereka dan masyarakat Indonesia di masa lalu. Dengan demikian
dihasratkan akan tersedia pijar renungan yang dapat dipetik dan dijadikan modal
untuk memformulasikan suatu moralitas dan etika berpolitik yang lebih
menjunjung tinggi imperative: Dignity for Humanity!
Berangkat dari renungan semacam itu, Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP)
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yayasan Obor Indonesia, Yayasan Umar
Kayam, Yayasan Pondok Rakyat, Impulse, Rumah Budaya Tembi, Pusat Kebudayaan
Indonesia-Belanda Karta Pustaka, Syarekat Indonesia, Perguruan Rakyat Merdeka
(Simpul Yogyakarta), Penerbit Jalasutra, Penerbit Ombak, Galangpress, Sanggar
NUUN, Anjani, Mess56, Kunci, Jaringan Islam kampus, dan Nawakamal berniat
mengadakan “Ruwatan Budaya: Diskusi Bedah Buku, Orasi Budaya, Pembacaan Puisi &
Cerpen dan Musikalisasi Puisi untuk korban kekerasan dan ketidakadilan”.
Ruwatan dalam adat Jawa adalah sarana untuk menolak bala, membebaskan kita dari
ancaman mara bahaya, berdoa dan meminta pengampunan atas segala dosa dan
kesalahan di masa lalu. Ruwatan Budaya kali ini bertujuan membebaskan kita dari
kesalahan rezim penguasa di masa lalu yang penuh darah dan kekekerasaan yang
telah memakan korban sampai ribuan orang tidak berdosa agar
kejadian seperti ini tidak akan terulang di masa datang dan mengenang kembali
korban-korban kekerasan yang selama ini terlupakan.

Cobaan Hidup

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu
Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.
Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)
Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.
Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.
Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)
Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri. Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)
Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.
Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an! Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!" Subhanallah..... "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"